DEFINISI
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan.
Kemampuan mengontrol halusinasi merupakan kesanggupan (potensi) menguasai persepsi sensori secara langsung, atau merupakan hasil latihan atau praktek.
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan.
Kemampuan mengontrol halusinasi merupakan kesanggupan (potensi) menguasai persepsi sensori secara langsung, atau merupakan hasil latihan atau praktek.
Terapi
yang digunakan untuk penanganan halusinasi adalah:
1. Terapi Thought Stopping
Desain yang digunakan ”Quasi experimental pre-post test with control group”. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel independen: terapi thought stopping dan variabel dependen: kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi dan wawancara terstruktur.
1. Terapi Thought Stopping
Desain yang digunakan ”Quasi experimental pre-post test with control group”. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel independen: terapi thought stopping dan variabel dependen: kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Pengumpulan data dengan menggunakan lembar observasi dan wawancara terstruktur.
Terapi tought
stopping memberikan pengaruh yang bermakna terhadap kemampuan mengontrol
halusinasi. Diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan terapi thought stopping
dengan memperhatikan indikasi klien yaitu klien yang sudah mendapatkan asuhan
keperawatan halusinasi serta membuat standar asuhan keperawatan dalam
mengontrol halusinasi yang tepat.
2. Menghardik
Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment dengan menggunakan pendekatan One Group Pretest-Postest, dengan tehnik purposive sampling. Data dianalisis dengan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh menghardik terhadap penurunan tingkat halusinasi dengar.
Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment dengan menggunakan pendekatan One Group Pretest-Postest, dengan tehnik purposive sampling. Data dianalisis dengan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh menghardik terhadap penurunan tingkat halusinasi dengar.
3. Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realita
Terapi yang bertujuan membuat pasien mampu mengidentifikasi stimulus internal maupun eksternal. Untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh terapi aktivitas kelompok orientasi realita terhadap kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien halusinasi
Terapi yang bertujuan membuat pasien mampu mengidentifikasi stimulus internal maupun eksternal. Untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh terapi aktivitas kelompok orientasi realita terhadap kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien halusinasi
Sampel diambil
dengan teknik pengambilan purposive sampling.
Penelitian yang digunakan adalah pre eksperimen one-group-pre-test-post-test
design dan data dikumpulkan dari responden menggunakan lembar
observasi.
Kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien
halusinasi sebelum diberikan TAK orientasi realita masih kurang baik. Namun, kemampuan mengidentifikasi stimulus pada pasien halusinasi
sesudah diberikan TAK orientasi realita mengalami peningkatan dan ada yang
tidak mengalami perubahan.
Dari terapi penanganan terhadap terapi tersebut
disimpulkan bahwa kebanyakan hasil
penelitian ini mempunyai implikasi yang bermanfaat bagi pelayanan kesehatan
khususnya dibidang kesehatan jiwa untuk pasien skizofrenia yang
mengalami halusinasi dengar.
Schizofrenia adalah diagnosis psikiatri yang menggambarkan gangguan
mental yang ditandai oleh kelainan dalam persepsi atau ungkapan realitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar